Hadir di Lonjakan Covid-19 Eropa, Kebanyakan dari Varian AY.4.2 Masih Misteri

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO telah menyatakan bahwa Eropa kembali menjadi pusat pandemi Covid-19. Dugaan sementara, meningkatnya infeksi SARS-CoV-2 itu dikarenakan negara-negaranya mengendurkan protokol kesehatan dan cakupan vaksinasinya yang tak merata.

Peningkatan kasus tersebut juga dibarengi dengan munculnya Covid-19 varian baru, AY.4.2—turunan varian Delta—yang dilaporkan sudah menyebar ke 42 negara. WHO menyebutkan bahwa varian ini memiliki tiga mutasi tambahan, termasuk dua pada protein pakunya, yakni mutasi A222V dan Y145H.

“Peningkatan pengiriman sampel genom sequencing AY.4.2 telah diamati terjadi sejak Juli 2021, dan pada 25 Oktober, totalnya lebih dari 26 ribu yang telah diunggah ke GISAID dari 42 negara,” kata WHO dalam pembaruan epidemiologi mingguan terbarunya.

Mayoritas (93 persen) data sampel genom dengan hasil sequencing AY.4.2 dilaporkan dari Inggris. Pertumbuhan sampel dari subvarian Delta ini terhitung sekitar 5,9 persen dari keseluruhan kasus Delta yang dilaporkan dalam minggu yang dimulai 3 Oktober di negara itu.

Negara di Eropa lainnya, yang mengkonfirmasi kasus AY.4.2 termasuk Polandia, Jerman dan Belanda. Menurut data pengawasan terbaru, AY.4.2 sekitar 16 persen dari semua kasus Covid-19 di Polandia.

Secara total kasus, data WHO juga menyebutkan bahwa per akhir Oktober, Inggris telah mengalami peningkatan kasus baru Covid-19 sebesar 15 persen, dan Rusia 15 persen. Secara keseluruhan, wilayah Eropa menunjukkan peningkatan 7 persen kasus mingguan, serta angka kematian tertinggi.

Badan kesehatan global itu mengatakan bahwa mereka terus memantau dan menilai varian-varian dari SARS-CoV-2, termasuk garis keturunan AY dari varian Delta. Laporan tersebut menambahkan bahwa studi lebih lanjut yang sedang menilai apakah AY.4.2 lebih menular atau lebih mematikan sedang berlangsung.

“Studi epidemiologis dan laboratorium sedang berlangsung untuk menilai apakah AY.4.2 memberikan dampak fenotip tambahan, misalnya perubahan dalam penularan atau penurunan kemampuan antibodi untuk memblokir virus,” kata WHO.

Sementara, laporan genom sequencing terpisah dari Pusat Pengendalian Penyakit Nasional telah mendeteksi 17 kasus AY.4.2 di India. Bahkan, laporan National Climatic Data Center (NCDC) menyebutkan bahwa AY.4 ini telah menyebabkan lonjakan kasus di Indore—salah satu kota di India—pada September.

Para ilmuwan mengatakan masih tidak jelas apakah AY.4.2 sebenarnya lebih menular atau tidak, karena terlalu sedikit yang diketahui tentang mutasinya. Namun, Profesor Francois Balloux, ahli genetika dan komentator Covid-19 di University College London, yang termasuk di antara yang pertama mengangkat kekhawatiran tentang AY.4.2, mengatakan kenaikan yang lebih lambat ‘masih kompatibel’ dengan keuntungan transmisi 10 persen.

DAILY MAIL | LATESTLY | ZEE NEWS

Mayoritas (93 persen) data sampel Covid-19 dengan hasil genome sequencing AY.4.2 dilaporkan dari Inggris.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.